Entri Populer

Selasa, 02 November 2010

Ukiran Akar Jati Limbah Pembawa Rejeki

Kayu Jati atau dalam bahasa latin di sebut Tectona Grandis adalah salah satu tanaman tropis yang paling terkenal sebagai bahan pembuatan furniture ataupun pembuatan rumah.

Tanaman ini di Indonesia banyak di budi dayakan mulai dari jaman Belanda hingga saat ini. Banyak lokasi pembudidayaan pohon jati seperti di Purwakarta, Serang, Blora, Jepara, Ngawi, Bojonegoro, Sulawesi Selatan, dll.
Salah satu lokasi terbaik dalam pembudidayaan kayu jati adalah di Blora-Jawa Tengah. Sejak jaman Belanda kota Blora terkenal sebagai penghasil kayu jati terbaik di dunia, hal ini disebabkan kontur tanah perkebunan yang mengandung kapur sehingga kayu jati dapat melakukan hibernasi pada saat kemarau dengan sangat sempurna yang pada akhirnya dapat menghasilkan profil permukaan kayu yang sangat eksotis.

Hasil kayu jati yang berlimpah ini menimbulkan efek bisnis furniture yang berkembang di daerah Jepara dan sekitarnya yang terkenal dengan ciri ukiran yang cukup halus dan menawan. Banyak sentra-sentra industri furnitur yang juga banyak menyerap bahan baku kayu jati baik yang berusia muda hingga ratusan tahun.
Dengan demikian banyak pula pohon jati yang harus di korbankan demi pemenuhan bahan baku bagi sentra industri furnitur tersebut, yang pada akhirnya kecepatan tebang lebih tinggi dari kecepatan pertumbuhan pohon jati yang baru.

Oleh karenanya perlu di ciptakan terobosan baru untuk membuat nilai tambah ekonomi dari sumber jati, tanpa merusak ataupun menebang pohon yang telah ada.
Adalah Bambang Krisyono seorang seniman pahat dan patung profesional asal Blora - Jawa Tengah yang telah melakukan terobosan dengan mengaplikasikan seni pahat dan ukir atas media berupa Akar Jati.

Sejak tahun 1980an beliau telah melakukan eksperimen untuk membuat karya seni dari akar kayu jati yang telah dibiarkan terpendam dalam tanah tanpa ada yang menyentuhnya. Karya seni yang dimaksud bukan sekedar membuat akar jati menjadi benda fungsional seperti kursi dan meja, namun lebih kearah estetika seni keindahan dan keunikan.

Pembuatan karya seni ini tidak hanya membutuhkan kemahiran si pematung/pemahat dalam memainkan alat atau pisau pahatnya, namun juga kreatifitas seni yang ada dalam diri si pematung itu sendiri.
Kreatifitas dalam menganalisa kekuatan seni dari sebuah akar jati menjadi nilai sukses seorang pematung akar jati.

Pada tahun 2005, dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 60, karya seni patung akar jati Bambang Krisyono telah menghiasi halaman taman istana Kepresidenan RI sekaligus beberapa patung juga menghiasi beberapa museum istana Presiden di seluruh Indonesia.

Lihat laman :

http://www.presidensby.info/index.php/sudutistana/2010/03/23/98.html



Juga laman :

http://www.presidensby.info/index.php/sudutistana/2010/05/07/104.html


Sebelum kreatifitas ini di mulai oleh Bambang Krisyono, sebenarnya akar jati tersebut telah banyak digunakan oleh penduduk sekitar sebagai kayu bakar untuk kebutuhan sehari-hari ataupun sebagai bahan bakar untuk pembakaran kapur. Setelah itu mulai banyak pengrajin yang memanfaatkan akar jati sebagai benda dekorasi fungsional seperti meja dan kursi. Hal ini membuat nilai tambah yang positif, sehingga harga akar kayu jati sebagai limbah mulai meningkat.

Namun dengan terobosan kreatifitas Bambang Krisyono, maka akar jati tersebut telah menembus lingkungan seni dan memiliki nilai jual yang tinggi. Selain keunikan dan kesulitan dalam mengukir di atas akar kayu jati yang keras, unsur kekuatan alam yang membentuknya tidaklah banyak di rubah, sehingga hal ini menjadi nilai tambah dari seni ukir ini. Selain itu setiap bentuk ukiran adalah SATU DIDUNIA.

Anda berminat memilikinya ?










Tidak ada komentar: