Entri Populer

Kamis, 04 November 2010

Teak Root Art Cavings by Bambang Krisyono

INTRODUCING
TEAK ROOT ART CARVINGS

ARCHIE’s ART GALLERY
Ph : +6287 882 888 636



Below you will see the increadible art made by nature and human, which every item is ONE AND ONLY IN WORLD.

Since long-long time ago Indonesia was became a famous teak wood furniture producing country.

Indonesia having very good quality of teak wood, because they selected which only  the old timber age 50 - 60 years that can be cut. By its highest quality makes people from around the world always hunting Indonesia furniture.
Since Indonesia is one of the biggest tropical rain forest owner in the world, then it was triggered an illegal logging in any of islands; Java, Sulawesi (Celebes), Irian (Papua), Sumatra, and the biggest illegal logging  are in Kalimantan (Borneo) in which to full fill the regional demand.

Observing this illegal action, and in line to our idealism, then we came up to the decision to reduce the usage of wood timber especially teakwood and change the raw material with the forest waste. This action is helping the Indonesian government in rehabilitating the wood resources all over the area.

Usually people cut the tree up to the ground and they are leaving the tree stump (wood root) which cannot be taken. This untaken stump/root underground will stay in the forest for many-many years (sometime more than 150 years) and becoming a stone fossil. Since then Bambang Krisyono realized that this waste has a priceless values and we started to use this TEAK ROOT or Teak Stump that never been used or taken after the timber was cut as an art media.

By the highest sense of art we transform the unused of teak stump/root  as forest waste into the world class of art that cannot be imitated. This art is fulfilling the ECO LABELLING requirement product.
We use only waste of teak stump/root of +/- 100 – 200 years old of stump/root taken from underground, so that every teak root has its specific shape of high class art.

Carver Name : BAMBANG KRISYONO
Authorize Curator : DALLY M. SUBAGIJO, ST., MM. 

 The President
(+/- 100 Y.O of Teak Root)


Old Hermit 1 (First Step)
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)

 
Old Hermit 2 (Second Step)
(+/- 200 Y.O. of Teak Root)

 Old Hermit 3 (Third Step) in Presidential Palace
(+/- 200 Y.O. of Teak Root)

Old Hermit 4 (Forth Step)
(+/- 200 Y.O. of Teak Root)

Unforgiving Neptune
(+/- 200 Y.O. of Teak Root)

Indian Face 
(as Ornament of GOIN COUNTRY Metro TV)
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)

Geronimo Face
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)

Geronimo
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)

Sleeping Goddess
(+/- 100 Y.O. of Teak Root)

Direction Of Life (King of Beggar)
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)

Direction of life   (kakek pertapa kecil memegang tongkat dan mangkuk)

An old hermit holding a bowl in his hand gives some meaning that when someone is getting older, he is getting poorer and poorer. He is poor of age. The less someone’s age, the wiser he should be. The less someone’s age, the more generous he should be. The reason is in the end, A man will carry some baggage on his back, the good things he did or the bad things he did.

Arah Hidup
Sesosok pertapa tua memegang mangkuk di tangannya ini memberi makna bahwa semakin tua manusia maka ia semakin miskin yakni miskin umur dan semakin berkurang umur manusia semakin harus dapat lebih bijaksana dan semakin tua manusia maka ia harus lebih banyak bersedekah. Manusia hingga akhir nanti akan membawa beban dipunggungnya yakni amal dari perbuatannya atau dosa dari perbuatan buruknya.
 .

Kwan Im Goddess
(+/- 200 Y.O. of Teak Root)

God of Fire
(+/- 200 Y.O. of Teak Root)
Ki Semar (Semar Mesem)
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)

Ki Semar (Semar Mesem)
He was one of the leading role in the tale of Javanese Mahabharata. He was wellknown as a honest humble humorous wise person. He was the man that always kept his words and lived in harmony in the village with his amazing children.

Ki Semar adalah salah seorang tokoh penting dalam kisah perwayangan jawam, Mahabharata. Ia adalah sosok yang terkenal jujur, sederhana, bijaksana, rendah hati dan penuh humor. Ia selalu menepati apa-apa yang telah ia ucapkan dan hidup sederhana dengan anak-anaknya yang juga mengagumkan.
Lost (Young Elephant)
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)
Lost
A young elephant feels confused, restless and sad because he doesn’t know where to go after the group has left him behind. He played around so cheerfully that he didn’t realize he had walked far away from the group. Now he is alone and feeling sorry for himself.

Seekor gajah muda sedang bingung,gelisah dan sedih karena ia tak tahu kemana akan pergi setelah tertinggal oleh kelompoknya. Ia bermain-main hingga tak sadar kalau ia seakin menjauh dari kawanannya. Kini ia sendirian dan menyesali apa yang telah ia perbuat.

What am I going to do now ? (What Should I do ?)
(+/- 100 Y.O. of Teak Root)


What am I going to do now?
A picture of  a monkey who has always been loyal to its master but once the master has gone, it gets confused because it doesn’t have anyone to rely on. Sometimes being loyal isn’t enough, we should be smart too.

Apa yang akan aku lakukan sekarang?
Gambaran seekor kera yang selalu setia pada tuannya tetapi ketika tuannya meninggalkannya ia kebingungan karena tak ada lagi orang yang bisa ia gantungkan. Kadang-kadang setia saja tidaklah cukup seharusnya ditambahkan dengan kecerdasan.

I Have To Read
(+/- 100 Y.O. of Teak Root)

Retire Lion
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)
Make My Day
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)
Unconditional Love
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)
In Presidential Palace

Unconditional love
2 goldfishes are in love swimming around with their beautiful fins in the pond.

2 ekor ikan yang sedang memadu kasih berenang ria mengelilingi kolam dengan siripnya yang indah.
Don’t Disturb me!
(+/- 150 Y.O. of Teak Root)
In Presidential Museum

Don’t Disturb me!                      
A message to reserve the habitat and the population of the Javanese tiger which is nearly vanished from the jungle in java.   

Jangan Ganggu aku!
Sebuah pesan untuk melindungi habitat dan populasi harimau jawa yang kini hamper punah dari hutan-hutan di Jawa.

Jungle Wall Story
(+/- 250 Y.O. of Teak Stump/Root)


Dally M. Subagijo berdiskusi dengan Menhut MS. Kaban pada Pembukaan Pameran Seni Ukir Akar Jati

Berdiskusi dengan Ex-MenegKop Suryadharma Ali

Berdiskusi dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

 Contact :
Dally M. Subagijo
Telp : +6287 882 888 636
Email : 
- dallymsubagijo@gmail.com
- subagijo@yahoo.com






Rabu, 03 November 2010

Dukung Pembangunan MUSEUM KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis ketiga terbesar di dunia setelah Zaire dan Brazil, berjuta-juta flora dan fauna endemik hidup disana. Semua itu adalah titipan anak-cucu kita yang harus kita jaga.
Hutan berfungsi sebagai penyeimbang alam; namun manusia dengan keserakahan, kerakusan, dan egoismenya sendiri sengaja merusak hutan, melakukan penebangan liar, dengan motivasi hanya UANG semata….

Kerusakannya benar-benar dahsyat !! bayangkan 5 kali lapangan bola per jam…. Akibatnya??  Banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan yang mendunia adalah pemanasan global. Bandung dan puncak yang dulunya begitu dingin sekarang tidak ada lagi. Bogor yang terkenal sebagai kota hujan sekarang sudah tidak menentu dan terkena banjir pula. Dan yang terakhir adalah bencana Wasior.

Hal ini harus di STOOOOPPPPP !!!!!

Cara terbaik dalam memberikan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup dan hutan adalah harus dimulai sejak dini. Artinya pemerintah harus memiliki kepekaan dengan memberikan perhatian khusus akan kelestarian lingkungan ini sejak dini. Selain sekolah dengan memasukkan pendidikan akan kelestarian alam didalam kurikulum, diperlukan juga suatu wahana tempat untuk memberikan pengetahuan dan pembelajaran khusus dengan lebih detail dan nyata (Audio Visual), yaitu dengan didirikannya MUSEUM.
Museum yang baik harus berfungsi untuk mengumpulkan dan memberikan informasi kepada khalayak atas apa yang terjadi dulu, sekarang dan kemungkinan masa depan. Di berbagai negara telah banyak dibangun Museum Kehutanan yang berfunsi sebagai tempat pembelajaran, contohnya :


  • Jepang dan Korea Selatan :
Jepang dan Korea Selatan adalah sebuah contoh negara yang tidak memiliki tanah seluas Indonesia dan juga tidak memiliki hutan selengkap Negara Republik Indonesia, namun memiliki kesadaran untuk memberikan hal terbaik bagi generasi yang akan datang akan pentingnya hutan dan sejarah hutan itu sendiri. Di Jepang terdapat Museum Kehutanan (Mori Hakubutsukan), di kota Fuchu, Tokyo. Lihat Museum kehutanan di Korea Selatan : http://www.gongju.go.kr/html/en/culture/culture_03.html 
  • Brunai Darussalam.
Bahkan Negara sekecil Brunei Darussalam juga telah memiliki Museum Kehutanan. Selain menjadi tempat untuk penelitian pada sumber daya kehutanan, juga salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi di Brunei Darussalam. Terletak di Distrik Belait. Museum Kehutanan didirikan pada tahun 1986 dan dicatat dalam “Museum of the World”. Di dalam, ada beberapa galeri yang menampilkan berbagai jenis hutan di negeri ini, sejarah hutan, berbagai jenis spesies pohon komersial dan tujuan mereka, koleksi serangga dan kehidupan liar. Terdapat juga pameran-pohon sumber daya yang tidak berasal dari hutan, itu. Museum juga memainkan peranan penting di bidang pendidikan menyebarkan informasi tentang peran hutan serta memberikan kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat. Sejak pembentukannya, Museum Kehutanan telah sering menerima pengunjung dari dalam dan luar negeri, terutama siswa/pelajar. Silakan kunjungi situs: http://www.aseancultureandinformation.org/coci/atn1.php?id=306
  • Brazil
Brazil telah menyadari potensi hutannya yang luar biasa dan sejak tahun 1927 telah mendesain Museum Kehutanan Brazil, yang pada tahun 1931 museum tersebut diresmikan. Kemudian pada tahun 1948 nama museum kehutanan tersebut di ganti menjadi FORESTRY MUSEUM “OCTAVIO VECCHI”, sebagai penghormatan kepada beliau sebagai konseptor dan pendiri museum tersebut. Lihat laman : http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=pt|en&u=http://museuflorestal2007.blogspot.com/

  • Masih banyak negara lainnya yang membuat museum kehutanan atau yang terkadang biasa disebut « Mueum Natural History » dan dapat menjadi kebanggaan bangsa masing-masing dan setidaknya tercatat dalam . Namun yang menjadi ironi bahwa nama Indonesia sama sekali tidak tercantum dalam Wikipedia tersebut. Silakan di buka. : http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_natural_history_museums

MUSEUM KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA yang baik dan representatif haruslah dimiliki oleh bangsa Indonesia, bukan hanya milik Departemen Kehutanan RI tapi milik kita semua sebagai sarana belajar dan berwisata, yang harus bisa di akses pada hari libur.

Selain menjadi objek wisata, fungsi museum disini adalah untuk memberikan pelajaran non-formal kepada segenap lapisan masyarakat akan pentingnya hutan bagi kehidupan. Sehingga konsep keberadaan museum tersebut harus menjelaskan dan menjawab hal-hal berikut :

a). Bagaimana hutan itu tersusun/terjadi berjuta tahun lalu?
b). Apa saja flora dan fauna yang ada didalam hutan ?
c). Fungsi segenap tumbuhan dan satwa di hutan ?
d). Bagaimana keindahan hutan Indonesia jika terjaga dengan baik?
e). Bagaimana kehancuran hutan dan kehidupan terjadi oleh tangan manusia ?
f). Apa efek kehancuran hutan bagi Indonesia dan dunia ?
g). Apa yang seharusnya kita lakukan ?
h). Bagaimana pemeliharaan hutan terjadi ?
i). Apa untungnya kalau hutan itu terjaga ?
j). Bagaimana kita berkontribusi untuk menyetop penebangan tak terencana atau penambang liar ?
k). Hal seni dari hutan lain yang membuat museum ini menarik.

Setidaknya dengan adanya museum ini di harapkan kita dapat memutus mata rantai generasi penebang liar / pebisnis hutan agar sadar. Mungkin orang tua mereka adalah cukong penebangan kayu yang telah membuat kesalahan dengan merusak hutan, tugas kita bersama untuk memutuskan warisan kesalahan yang sama kepada generasi berikutnya.

Memang telah ada museum kehutanan namun keberadaannya sangatlah menggambarkan hal yang kontradiktif dengan keinginan kita melestarikan hutan. Didalam museum kehutanan di gedung Manggala Wanabhakti lebih menggambarkan proses penebangan hutan jati, alat-alat yang digunakan, serta moda pengangkutannya pada Jaman Belanda dahulu. Dengan demikian kita hanya akan mendapatkan suguhan penebangan hutan jati di Pulau Jawa.

Mari kita dukung pembangunan MUSEUM KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. Karena usulan ini telah di gulirkan oleh Penulis ke Departemen Kehutanan RI pada tahun 2005 melalui Menteri MS. Kaban, dan kurang mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait disana (dengan alasan yang tidak jelas ?? “Tidak punya uang” katanya)…

Kita tahu hal seperti ini mungkin tidak menjadi prioritas pemerintah untuk dilaksanakan sehingga alasan ketiadaan dana menjadi alasan yang utama. Namun perlu kita ingat bahwa sudah banyak perusahaan yang menikmati kekayaan hutan Indonesia, maka seyogyanya mereka harus bertanggung jawab dengan menyisihkan dana yang mereka dapat selain untuk melestarikan hutan kembali, tapi juga untuk mendanai pembangunan museum ini demi masa depan bangsa.

Hutan dan sumber energi adalah titipan anak cucu kita bukan warisan leluhur yang harus dihabiskan atau
dirusak. Kita akan menyesal jika tidak mau berkorban untuk memeliharanya sejak saat ini. Dengan menjaga kearifan alam, maka kita akan dapat menjaga titipan anak cucu kita dan menserahterimakannya dengan baik.

Join Grup FB, Dukung Pembangunan Museum Kehutanan Republik Indonesia : http://www.facebook.com/group.php?gid=188808221489&ref=ts#!/group.php?gid=188808221489&v=info&edit_info=all


Selasa, 02 November 2010

Ukiran Akar Jati Limbah Pembawa Rejeki

Kayu Jati atau dalam bahasa latin di sebut Tectona Grandis adalah salah satu tanaman tropis yang paling terkenal sebagai bahan pembuatan furniture ataupun pembuatan rumah.

Tanaman ini di Indonesia banyak di budi dayakan mulai dari jaman Belanda hingga saat ini. Banyak lokasi pembudidayaan pohon jati seperti di Purwakarta, Serang, Blora, Jepara, Ngawi, Bojonegoro, Sulawesi Selatan, dll.
Salah satu lokasi terbaik dalam pembudidayaan kayu jati adalah di Blora-Jawa Tengah. Sejak jaman Belanda kota Blora terkenal sebagai penghasil kayu jati terbaik di dunia, hal ini disebabkan kontur tanah perkebunan yang mengandung kapur sehingga kayu jati dapat melakukan hibernasi pada saat kemarau dengan sangat sempurna yang pada akhirnya dapat menghasilkan profil permukaan kayu yang sangat eksotis.

Hasil kayu jati yang berlimpah ini menimbulkan efek bisnis furniture yang berkembang di daerah Jepara dan sekitarnya yang terkenal dengan ciri ukiran yang cukup halus dan menawan. Banyak sentra-sentra industri furnitur yang juga banyak menyerap bahan baku kayu jati baik yang berusia muda hingga ratusan tahun.
Dengan demikian banyak pula pohon jati yang harus di korbankan demi pemenuhan bahan baku bagi sentra industri furnitur tersebut, yang pada akhirnya kecepatan tebang lebih tinggi dari kecepatan pertumbuhan pohon jati yang baru.

Oleh karenanya perlu di ciptakan terobosan baru untuk membuat nilai tambah ekonomi dari sumber jati, tanpa merusak ataupun menebang pohon yang telah ada.
Adalah Bambang Krisyono seorang seniman pahat dan patung profesional asal Blora - Jawa Tengah yang telah melakukan terobosan dengan mengaplikasikan seni pahat dan ukir atas media berupa Akar Jati.

Sejak tahun 1980an beliau telah melakukan eksperimen untuk membuat karya seni dari akar kayu jati yang telah dibiarkan terpendam dalam tanah tanpa ada yang menyentuhnya. Karya seni yang dimaksud bukan sekedar membuat akar jati menjadi benda fungsional seperti kursi dan meja, namun lebih kearah estetika seni keindahan dan keunikan.

Pembuatan karya seni ini tidak hanya membutuhkan kemahiran si pematung/pemahat dalam memainkan alat atau pisau pahatnya, namun juga kreatifitas seni yang ada dalam diri si pematung itu sendiri.
Kreatifitas dalam menganalisa kekuatan seni dari sebuah akar jati menjadi nilai sukses seorang pematung akar jati.

Pada tahun 2005, dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 60, karya seni patung akar jati Bambang Krisyono telah menghiasi halaman taman istana Kepresidenan RI sekaligus beberapa patung juga menghiasi beberapa museum istana Presiden di seluruh Indonesia.

Lihat laman :

http://www.presidensby.info/index.php/sudutistana/2010/03/23/98.html



Juga laman :

http://www.presidensby.info/index.php/sudutistana/2010/05/07/104.html


Sebelum kreatifitas ini di mulai oleh Bambang Krisyono, sebenarnya akar jati tersebut telah banyak digunakan oleh penduduk sekitar sebagai kayu bakar untuk kebutuhan sehari-hari ataupun sebagai bahan bakar untuk pembakaran kapur. Setelah itu mulai banyak pengrajin yang memanfaatkan akar jati sebagai benda dekorasi fungsional seperti meja dan kursi. Hal ini membuat nilai tambah yang positif, sehingga harga akar kayu jati sebagai limbah mulai meningkat.

Namun dengan terobosan kreatifitas Bambang Krisyono, maka akar jati tersebut telah menembus lingkungan seni dan memiliki nilai jual yang tinggi. Selain keunikan dan kesulitan dalam mengukir di atas akar kayu jati yang keras, unsur kekuatan alam yang membentuknya tidaklah banyak di rubah, sehingga hal ini menjadi nilai tambah dari seni ukir ini. Selain itu setiap bentuk ukiran adalah SATU DIDUNIA.

Anda berminat memilikinya ?